cerita pendek
Showing posts with label cerita pendek. Show all posts

Wednesday, 8 March 2017

Sayangilah Nyawa Anda Dan Rasakan Bagaimana Belari Saat Menyebrang Jalan




Tahun 2050.

Semua orang tidak lagi menapakkan kaki ke aspal untuk berjalan atau mengendarai mobil maupun motor. Semua telah diciptakan untuk melayang, dan terbang setinggi pesawat. Perlahan perusahaan-perusahaan pembuat pesawat di seluruh dunia mulai memilih menutup usahanya, dan membakar seluruh pesawatnya. Sejak diciptakannya mobil dan motor yang mampu terbang tinggi dari pesawat. Seiring waktu orang-orang tidak lagi berjalan di atas aspal, semua orang lebih memilih melayang daripada berjalan di atas aspal yang mampu menguras tenaga.

Namun kedua orangtuaku, dan aku, lebih memilih berjalan di atas aspal daripada melayang. Kedua orangtuaku mempuyai dua alasan diantaranya tidak ingin tewas tertabrak, dan tidak ingin melupakan bagaimana cara berjalan dan berlari.

Aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh kedua orangtuaku. Namun alasan itu masih saja ada yang kurang buatku, rasanya aku ingin menambahkan alasan itu, tanpa sepengetahuan kedua orangtuaku, yaitu aku tidak ingin melupakan bagaimana caranya menyebrang jalan dengan berlari ketika jalanan sepi.

Banyak sekali orang-orang yang tewas tertabrak motor dan mobil, dikarenakan tidak mampu berlari ketika mereka melayang. Melayang bukan sebagai alasan untuk tidak bisa menghindar. Andai saja mereka masih mampu mengingat bagaimana caranya berjalan, berlari dan menyebrang jalan, mereka pasti mampu mengindar. Semua orang sudah dikalahkan oleh zaman, dan melupakan apa yang diajarkan. Namun tetap saja mereka akan kembali ke tanah. Meskipun begitu, aku dan kedua orangtuaku tak akan dikalahkan oleh zaman maupun para ilmuan.

Lima tahun kemudian, orang-orang lebih memilih berjalan daripada melayang. Ketika aku mengunggah video yang berisikan kumpulan kecelakaan akibat melayang di salah satu media yang mampu menampung video di seluruh dunia dengan judul “Sayangilah nyawa anda dan rasakan bagaimana belari saat menyebrang jalan” yang aku posting pada tahun 2051, dan para penonton kumpulan video kecelakaan akibat melayang yang kuunggah, sudah tidak mampu lagi menghitung jumlah penonton.  Sejak itu orang-orang muli memilih berjalan dan berlari. Semua perusahaan motor dan mobil mulai menciptakan mobil maupun motor yang mampu berjalan di aspal. Sejak video “Sayangilah nyawa anda dan rasakan bagaimana belari saat menyebrang jalan” Perusahaan pesawat di seluruh dunia mulai optimis dan mencoba kembali menciptakan pesawat.

Di tahun 2055. Aku dan kedua orangtuaku memutuskan untuk melayang dan menghindari rasanya terlambat.


Mungkin di tahun 2060. Aku akan mengunggah video yang berisikan kumpulan orang terlambat bekerja dengan judul “bagaimana rasanya terlambat”.

Thursday, 5 January 2017

Sebuah Kisah Tentang Pemuda Bernama Sanusi yang Melakukan Proses Bunuh Diri yang Tidak Menarik

Pinterest.com

Sanusi mencoba membunuh dirinya sendiri hari ini, dengan mengcengkramkan kedua tangannya di leher. Saat itu Sanusi sudah merasakan sesak napas, namun percobaan pertamanya gagal, ketika Ibu pemilik kontrakan berkunjung untuk menagih bayaran kontrakan bulan ini. Sanusi hanya merasakan sakit di leher dan sedikit menyesal, karena sudah bersusah payah untuk membunuh dirinya sendiri namun gagal. Sanusi belum merasa puas, atau menyerah dengan kegagalan pertamanya.
Pada keesokan harinya, Sanusi, berpikir bagaimana cara membunuh diri tanpa merasakan sakit sedikit pun. Satu setengah jam, selama itu Sanusi untuk berpikir bagaimana membunuh dirinya sendiri.  Sanusi terus menepuk-nepukan jidatnya dengan wadah kepingan DVD, hingga akhirnya Sanusi berhasil menemukan cara yang baik dari yang tidak baik. Ide itu tiba di kepalanya setelah wadah kepingan DVD, itu menghantam jidatnya sebanyak sepuluh kali. Sanusi mulai beranjak dari kamar tidurnya, dan meninggalkan kontrakannya. Untuk mencari, 100 Judul Serial Drama korea, Sanusi berharap ide itu akan berhasil untuk menemani kematiannya yang menurutnya akan indah.
Sebelum pencarianya dimulai. Sanusi mulai melakukan riset cepat melalui teman-temannya, mengenai judul serial drama korea yang mampu menyentuh hati. Walau selama proses riset kepada seluruh temannya, Sanusi, berhasil menolak tawaran teman-temanya yang berniat memberikannya secara cuma-cuma. Namun dengan pemikirannya yang idealis, Sanusi, tidak ingin merasa hutang budi kepada kematiannya nanti. Sanusi tidak ingin teman-temanya berdosa, dikarenakan telah membantu proses kematiannya yang akan indah dan berkesan. Selain sikap idealis Sanusi yang cukup besar mengenai proses bunuh diri yang indah. Namun Sanusi lebih menyukainya dalam bentuk fisik daripada digital. Makanya ia berani menolak seluruh tawaran teman-temannya.
Dari dalam hatinya, Sanusi sudah merasakan kegagalan kedua yang sudah menanti. Sanusi tidak ingin rencana ini gagal, gara-gara penjual dvd bajakan tidak memiliki 100 judul serial drama korea yang diinginkannya. Akhirnya Niat mengenai berburu 100 (keping DVD) judul serial drama korea pun dibatalkannya. Tidak berhenti di situ, Sanusi bergegas mencari seluruh teman-temannya, dan meminta semua film serial drama korea yang tadi direkomendasikan untuknya. Selama proses mencari dan mengirim. Sanusi akhirnya berhasil mendapatkan, 100 judul serial drama korea yang akan menemani proses bunur diri yang indah. Walau begitu, Sanusi merasa sedikit kecewa mengenai dirinya sendiri, yang meninggalkan dirinya di dalam hati-hati teman-temannya dan menghianati sikap cintanya terhadap barang fisik daripada digital.
Meskipun sudah terlanjur, Sanusi tetap akan menonton, 100 judul serial drama korea.
Sudah tiga minggu, Sanusi tidak keluar rumah, dan baru merampungkan sekitar 5 judul serial drama korea. Sudah tiga minggu juga buat komputer yang terus menyala dan, korden yang terus tertutup. Sudah tiga minggu, pintu kontrakannya tertutup rapat. Sudah tiga minggu, Sanusi, mencoba membunuh dirinya sendiri. Sudah tiga minggu, Sanusi meninggalkan kekasihnya.
Setelah bosan dan merasa gagal, Sanusi terbenam dalam mimpinya tanpa merampungkan 100 judul serial drama korea. Sanusi telah berjanji, tidak ada lagi 100 judul serial drama korea dan, tidak ada lagi niatan untuk membunuh dirinya sendiri.

Thursday, 29 December 2016

Kisah Cinta Seorang Pembunuh I

pinterest.com


Kisah Pertama ini dibuat dan disebarkan pada bulan November, 1992.


Bulan terasa dingin malam itu. Peluru-peluru dijadikan anting maupun kalung. Tidak ada lagi keceriaan di wajah Sanusi, setelah kekasihnya ditembak mati oleh pasukan bersenjata. Sejak itu Sanusi lebih senang hidup di dalam rumah ketika pagi hingga sore menghilang dari pandangan matanya. Saat malam hari, Sanusi, berubah menjadi dingin dan pendendam. Satu hari setelah kematian kekasihnya, Sanusi bersumpah untuk menjadi pembunuh. Pertama kali yang dibunuh oleh Sanusi adalah dirinya sendiri.

1992

pinterest.com

Puluhan peluru berserakan di jalanan, dan puluhan coretan bertuliskan “sampai jumpa” yang ditulis menggunakan cat berwarna merah. Saat itu delapan oktober tahun seribu Sembilan ratus Sembilan puluh dua. Suasana kota benar-benar mencekam, pasukan bersenjata berdiri dan bersembunyi di sudut-sudut jalan. Jendela, pintu, semua tertutup rapat, sehingga kota ini terasa dihuni oleh puluhan pasukan bersenjata. Per-ekonomian kota ini terhenti sejak puluhan pasukan bersenjata mulai bersembunyi dan menembakan peluru seenak jidatnya.
Delapan oktober seribu Sembilan ratus Sembilan puluh dua, aku satu-satunya orang yang masih membuka dan menjual jasa di masa-masa sulit dan tersembunyi ini. Aku memiliki tempat cukur rambut yang bernama, Slirahmu, yang setiap harinya aku mampu mencukur rambut sebanyak satu orang, meskipun itu seorang pasukan bersenjata. Aku dapat mencium bau mesiu dari tubuhnya lalu juga mampu memegang senjata laras panjang yang berat.
Ia bernama Aner. Seorang perempuan yang masih ranum untuk berkembang menjadi seorang wanita yang cantik. Ia satu-satunya pengunjung yang datang untuk hari ini. Aner menceritakan banyak pengalamannya mengenai bagaimana membunuh orang atau menembakan peluru ke arah kepala seseorang. Malam itu Aner datang tanpa senjata atau bau mesiu. Ia benar-benar cantik dengan bibir yang tak beroleskan gincu, Ia bukan seperti pasukan bersenjata hari ini.
Aner memberikan aku sebuah senjata berukuran kecil untuk berjaga-jaga. Ia memberitahuku mengenai target operasi selanjutnya, yaitu Aku sudah tercatat dalam daftra buronan, dan dituduh sebagai mata-mata pemberontak. Ia mencoba dan memberitahuku supaya aku meninggalkan kota ini dan menutup usahanya. Meskipun begitu yang akan terjadi, aku akan tetap di sini menunggu sampai penembakan itu tiba.
 “Terima kasih!” Kataku.
Ia pergi begitu saja tanpa membalas ucapan terima kasihku. Walau seperti itu ia meninggalkan dua hal di ingatanku: Pertama. Kecantikannya. Kedua. Senjata ini. Alangkah indahnya, bila saja diriku hidup lebih lama, dan tak mati tertembak, aku akan lebih mengenal sosoknya. Namun ia benar-benar pergi dengan meninggalkan senjata ditanganku.

Pagi ini seluruh kota benar-benar tenang, namun hari ini adalah kematianku. Benar sekali apa yang diceritakan oleh orang-orang mengenai kematian, kematian bisa selalu berwujud apa saja. Namun Tuhan telah memilihkanku kematian dalam bentuk peluru yang akan menembus isi kepalaku atau bersarang dan tinggal di kepalaku selama-lamanya.
Kematian bagaikan, ‘Rindu yang harus dibayar tuntas’, seperti yang ditulis oleh Eka Kurniawan.
Hari ini aku tak benar-benar melihat dirinya, ia menghilang dan membuatku seperti hantu yang selalu mengentayangi sudut jalan di sana. Sama seperti kematianku yang selalu menjadi hantu di ingatanku.
Melepas rasa bosan dari menunggu kematianku, aku mencoba duduk dan berpikir bagaimana kematianku akan tiba. Apakah kematianku akan tiba saat aku sedang buang besar? Atau saat aku sedang makan? Menurutku keduannya begitu menyedihkan. Mungkin kematianku akan tiba saat aku sedang duduk dan berpikir seperti saat ini.
DUAR!! Sebuah Peluru melesat ke arah dadaku. Aku merasa sedih akan kematianku ini, dugaanku salah besar mengenai peluru yang bersarang di dadaku, bukan bersarang di kepalaku seperti yang kuinginkan.

Kulihat sepasang mata di kejahuan yang menyala di dalam kegelapan. Kedua mata itu mulai menghilang. Dalam penglihatanku walau tak begitu jelas, munculah seorang pasukan bersenjata yang aku tahu itu adalah Aner. Ia mulai mendekat ke arahku dengan sebuah senjata yang masih dapat aku cium aroma hangat mesiu. Tak begitu lama, DUAR!!! Untuk kedua kalinya aku mendengar suara itu. Alangkah indahnya sebuah kematian.

Saturday, 19 November 2016

Pablo II

Cerita itu kembali diceritakan.
“Apakah kau ingin mendengarkan sebuah cerita? Walau cerita ini tidak terlalu mengasyikan, tetapi cerita ini begitu menarik jika diceritakan di waktu-waktu seperti ini.”
“Apakah kau siap mendengarkannya?”
Sebelum aku menceritakan cerita ini. Periksalah jendela dan punti. Aku tidak ingin ada orang yang menggangu saat aku sedang bercerita.
“Siap!”
“Ehmmm!”
Cerita ini tentang seorang lelaki bernama Pablo, cerita ini pernah diceritakan oleh orang lain yang sudah dipilih untuk menceritakan kisah Pablo ini. Termasuk aku. Pablo mati di telan api, setelah beberapa ekor kutu mengusai pikirannya. Itu cerita yang pernah kudengar sewaktu kecil, di mana pamanku menceritakan kisah itu. Aku masih ingat pesan terkahir kisah yang diucapkan saat paman menceritakan kisah Pablo I. Aku harus menceritakannya dengan keadaan senang, jika aku bercerita mencampurkan dengan perasaan sedih, dendam atau kesombongan. Aku pasti akan mati, seperti yang dialami oleh pamanku, mati tertelan api seperti kisah yang diceritakan dalam Pablo I.
“Ehmmm!”
Pablo selalu bermain air setiap pagi dan menjelang malam. Pablo tinggal di sebuah rumah yang cukup besar, di mana Pablo dikelilingi oleh orang-orang yang baik kepadanya. Pablo akhirnya memutuskan untuk berpetualang meninggalkan rumahnya selama satu malam. Sebelum Pablo benar-benar memustukan Pablo bertemu seeorang temannya bernama Sylvia. Ia adalah cinta pertamanya Pablo. Saat itu Sylvia menceritakan sebuah peta harta karun yang menuju sebuah rumah kosong.
“Pablo. Apakah kau mau menemaniku pergi ke rumah kosong itu? Rumah kosong yang di sudut jalan.” Itu pertanyaan Sylvia untuk Pablo.
Ini adalah kesempatan untuk bisa berduaan bersama Sylvia selama satu malam. Itu yang terpikirkan oleh Pablo. Bukan peta atau harta karun yang dipikirkannya.
“Baiklah jika kau diam. Itu tandanya kau setuju!” Sylvia tersenyum.
Pablo membalas senyumnya.
Besok pagi kita bertemu di tempat ini tepat pukul enam pagi.
“Okeh!” Tanya Sylvia.
“Baiklah!” Jawab Pablo.
Sylvia berlari meninggalkan Pablo dan Pablo hanya dapat mencium sisa-sisa parfum yang ditinggalkan di tempat itu. Pablo kembali ke rumah tanpa berlari, ia hanya berjalan dan tersenyum-senyum.
Pablo tidak bisa tidur dan terus teringat senyumnya. Saat itu Pablo mencoba memejamkan matanya, dan akhirnya ia tertidur selama enam jam. Tidurnya terlalu cepat bagi Pablo sehingga sudah pukul enam pagi. Pablo hampir lupa akan sesuatu dalam hitungan detik, namun ia segera berlari ke kamar mandi lalu melompat ke halaman samping rumahnya.
Sylvia sudah menanti dengan sebuah gulungan kertas berwarna cokelat dan juga senyumnya yang akan tertinggal di pikiran Pablo.
Sylvia tersenyum ketika melihat Pablo hanya dengan memakai celana pendek dan kaos kutang berwarna putih dan sedikit noda di bagian perut. Mulut mereka berdua mengeluarkan uap dingin, dan meniru gaya orang-orang yang sedang merokok. Pablo hanya tertawa. Sylvia segera menunjuk sebuah rumah yang besar yang tertutup kabut yang tebal. Pablo hanya tersenyum melihat rumah itu. Walau dirinya tidak melihat bentuk rumah itu di balik kabut.
Sylvia membuka sebuah gulungan berwarna cokelat yang ditaruhnya di atas tanah, dan terlihat angka- angka dalam kotak-kotak lalu gambar yang aneh, tidak seperti ular tangga pada umunya.
“Apakah kau siap?” Tanya Sylvia.
“Siap!” Jawab Pablo.
Lempar dadu itu. Sylvia memerintah Pablo untuk melemparkan dadu itu.
Dadu itu melambung di udara.
“Enam!” Kata Sylvia.
“Enam?” Kata Pablo.
“Ya!” Seru Sylvia.
Pablo menggerakan batu kecil itu menuju ke angka enam, di mana kotak itu bergambar api dan seseorang dengan salah satu tangannya terpotong. Sylvia tertawa pelan. Pablo memanglah anak yang polos dan tidak tahu apa yang akan terjadi kepada dirinya. Mengenai api dan sepotong tangan.
“Pilihan yang bagus, Pablo.” Itu yang keluar dari mulut Sylvia. Api dan sepotong tangan. Sebuah keberuntungan yang bagus untukmu Pablo.
Seperti kata-kata orang lain di luar sana, sesuatu yang hilang pasti tak akan pernah kembali sesutuhnya. Seperti perasaanmu kepadaku Pablo. Bermainlah bersamaku hingga permain ini berakhir. Pablo melempar dadu untuk terakhir kalinya di mana permain berakhir dan menyisahkan Pablo yang sekarat.
Matilah kau Pablo.


Tuesday, 15 November 2016

Pablo I


Semua orang datang dan pergi, rapih dan berantakan. Namun Pablo lebih memilih pergi dan rapih ketika ia memutuskan untuk jadi seorang pencerita bagi siapa pun. Kedua orangtuanya tewas setelah kutu-kutu di rambutnya mengusai pikiran kedua orangtuanya untuk melompat ke dalam sumur. Pablo tidak lagi bisa disebut bocah, usianya sudah duapuluhldua tahun. Pablo hidup bersama lagu-lagu dan buku-buku yang ditinggalkan pemiliknya. Dari sana Pablo mulai mencoba jadi pencerita untuk dirinya sendiri.

Pablo tidak pernah menulis untuk cerita-cerita yang ia ceritakan untuk dirinya sendiri. Sebuah kain putih menutupi sebuah kayu berbentuk persegi, Pablo berjalan menarik kain putih itu, munculah sebuah cermin yang memantulkan dirinya sendiri. Sepanjang malam Pablo hanya duduk di depan cermin dan bercerita selama sepuluh tahun. Pablo tidak merasa bosan. Namun Pablo yang lain merasa bosan dan marah, setiap harinya melihat Pablo bercerita terus menerus.

Pablo yang di dalam cermin memutuskan untuk tidak muncul di hadapannya. Saat itu Pablo mencoba mencari dan terus mencari di setiap benda yang memantulkan dirinya sendiri. Alhasil semua benda yang seharusnya memantulkan dirinya sendiri, hanya memantulkan ruang yang berisikan buku-buku.

Bagaimana pun Pablo akan terus mencari dan terus mencari dirinya yang hilang. Cuaca sedang begitu dingin, Pablo membakar buku-buku yang tak memiliki halaman lengkap. Melempar dan terus melemparkan buku-buku ke arah api yang semakin terus membesar. Kobaran api semakin membesar lalu membakar seluruh dinding rumah, hingga rumah itu menghilang dan Pablo ditelan di dalam api.

Pablo sejujurnya tidak benar-benar tertelan api. Sejujurnya Pablo bisa berlari sebelum api membakar seluruh bangunan rumah. Hanya saja Pablo lebih memilih menelankan dirinya sendiri ke dalam kobaran api. Setelah kutu-kutu di rambutnya benar-benar mengusai pikirannya.


Pablo hanyalah Pablo. Sebuah cerita yang tak memiliki ujung cerita dan terus diceritakan dan disadur oleh anak-anak yang sedang merasa sedih dan akan terus berlanjut diceritakan, selama anak-anak masih bisa merasakan sedih.

Thursday, 3 November 2016

Tersesat


Gelap memang musuh manusia yang dibilang begitu menakutkan dan mengkhawatirkan, seperti pertanyaan-pertanyaan ini, yang tersesat dan berpikir di dalam gelap. Kekhawatiran semakin tumbuh ketika mereka berpikir dan terus bertanya.

Apa yang kau pikirkan saat ini? Lihatlah semua gelap, tidak ada apa apa. Hanya tercium aroma tubuh kita yang bau, walau kita tidak saling melihat selama enambelas jam.

Apa yang kau pikirkan saat ini?
Berjalan dan terus berjalan.

Apa yang kau pikirkan saat ini?
Berdiam diri di sini.

Apa yang kau pikirkan saat ini?
Berjalan lalu kita mati ditelan gelap.

Apa yang kau pikirkan saat ini?
Saat ini kita hanya mampu mencium dan mendengar.

Apa yang kau pikirkan saat ini?

Saat ini kita lebih baik diam.

Monday, 31 October 2016

Kisah Beraroma Mie Goreng


Aku telah menanggalkan luka di keping-keping ingatanmu dan juga di keningmu. Setelah kau membuat kekacauan yang kau buat ketika aku benar-benar sakit, tertusuk pisau, di mana tanganmu benar-benar menuskan tepat di lambungku beberapa kali. Ini terjadi begitu sepele, rasanya ingin meludah atau ketawa-tawa.
Semua terjadi ketika kau membuatkan mie goreng dan teh hangat di dapur, beberapa menit kau datang tanpa membawa sepiring mie goreng atau teh hangat di kedua tanganmu, tetapi tangan kirimu menyembunyikan sesuatu di balik punggungmu. Matamu benar-benar memerah seperti menangis begitu hebat, badanmu gemetar begitu takut dan menakutkan bagiku yang tidak tahu apa-apa yang sedang terjadi kepadamu.
Sekitar jarak kurang dari semeter kau berdiri, aku mampu merasakan setan di tubuhmu bangun, seaakan ingin menelanku hidup-hidup. Tangan sebelah kirimu perlahan bergerak dari balik punggungmu. Kulihat kau mengeluarkan pisau dapur yang membekas kecap dan bumbu mie goreng di badan pisau.
Napasmu tersenggal-senggal seakan kau akan mengeluarkan setan dari mulutmu, seperti Iblis Boo, pikirku. Mulai kacau dan hanya terpikirkan malam ini, malam Halloween dan kau sedang berpura-pura menjadi pembunuh berdarah dingin, lalu menusukan pisau yang beraroma mie goreng itu ke tubuhku. Aku hanya tertawa di dalam batin.
Dengan cara kau memegang pisau itu, rasanya kau benar-benar ingin membunuhku.
Jika kau benar-benar menusukan pisau itu di tubuhku, aku akan mati dan berdarah beraroma Mie goreng. Lalu di koran atau acara televisi akan memberitakan kematianku yang beraroma mie goreng.
Selama aku berpikir tentang kematianku, kau sudah berjongkok di depan wajahku. Aku dapat mencium aroma Mie goreng dari pisau itu. Tangan kanamu, memegang pundak sebelah kanan, didorong perlahan hingga aku berada dalam posisi tertidur. Kau semakin maju dan duduk tepat di perutku. Seakan-akan ini akan menjadi pembunuhan yang romantis dan terlucu. Tanpa disadari aku sudah tidak lagi berbaju.
Kau tidak mengucapkan satu kata pun, dan hanya terdengar napasmu yang sedikit menyentuh kulitku. Matilah aku di tanganmu. Matilah aku di antara selangkanganmu. Matilah aku di pisaumu. Matilah aku di antara aroma Mie goreng yang belum selesai.
Kau memainkan pisau itu di perutku dan, kau menusukan pisau itu beberapa kali. Sehingga aku benar-benar berdarah, bercampur kecap dan bumbu Mie goreng. Aku melihat mulutmu benar-benar berliur dan liar.
Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku! Berakhirlah aku!
Setan di dalam tubuhmu mulai pergi, dan kau benar-benar menangis ketika kau melihatku berdarah dan sebuah pisau yang menancap di tubuhku. Di saat terkahirku, aku tahu kau kehilangan ingatan, dan menganggap aku adalah mantan kekasihmu yang sering memukulimu hingga babak belur dan kau berhasil menusuku.
”Sudah berapa lama aku tertidur?” Tanyaku.
“Satu bulan.” Jawabnya.
Aku terbangun di sebuah ruangan, kamar di rumah sakit.
Kulihat dirimu tersenyum dan menangis tanpa sebuah pisau juga aroma mie goreng yang belum sempat selesai.


Sunday, 16 October 2016

2000 Ekor Cicak


Beberapa hari ini ayah suka sekali membunuh nyamuk hingga berniat membunuh diriku yang katanya diriku selalu berdarah dan terluka, menyebabkan banyak sekali nyamuk bersembunyi di sela-sela prabotan. Demi menjaga dari nyamuk-nyamuk yang nakal, nyamuk-nyamuk yang bajingan dan bangsat. Ayah mengingikanku pergi dari rumah atau mati dibunuh tangannya. lain juga apa yang dipikirkan oleh ibu, memang pemikiran seorang wanita selalu berhat-hati, berkat pembelaan ibu, saya tetap bertahan di rumah, dan demi cicak-cicak peliharannya.
Tanpa adanya saya di rumah tidak ada lagi nyamuk-nyamuk yang bangsat dan cicak-cicak peliharaan ibu, kelaparan dan mulai mati, terjatuh dari dinding. Pasti ibu akan marah besar seperti perang besar antara Rusia dan Amerika yang kabarnya mulai memanas. Seperti ayah yang mengidolakan penulis asal Rusia, Vladimir Nabokov. Ibu tidak menyukai penulis-penulis asal Rusia. Ibu lebih mencintai anaknya dan cicak-cicak peliharaanya.
Seperti ayahku yang sangat suka membaca pelbagai buku yang ditulis oleh penulis Rusia. Ayah seorang pria yang berkerja sebagai tukang pemotong kayu yang setiap harinya menebang dan menunggu. Itu yang sering kulihat dari balik jendela. Menghitung cicak-cicak di dinding adalah kegiatan ibu sehari-hari.

Hari ke 1000, ayah sudah membunuh nyamuk hingga tak mampu dihitung, seakaan ini batas kesabarannya untuk berakhir, matanya sudah cukup merah dan bengkak seperti kurang tidur demi membunuh nyamuk. Kudengar napasnya mulai memberat, matanya mulai benar-benar marah kepadaku. Seluruh prabotan rumah telah hancur berantakan, menyebabkan banyak sekali nyamuk yang bersembunyi di sela-sela prabotan mulai berterbangan, mendengung cukup keras. Membuat rasa amarahnya mulai tak terkendali. Ayah berlari mengambil kapak di sudut ruang, untuk membunuh segerombolan nyamuk. Alhasil tidak ada nyamuk yang terbunuh, melainkan menciptakkan lubang yang besar, persis luka yang ayah derita selama ini. Dinding dan lantai hancur.

Nyamuk-nyamuk yang bajingan itu dan bangsat itu, kembali bersembunyi di sela-sela kehancuran. Ibu, sudah 200 hari tidak pernah pulang ke rumah, menyababkan nyamuk-nyamuk itu terus bertambah, dan bertambah. Hal ini tidak baik untuk kesehatan Ayah, untuk menghabiskan seluruh waktunya, untuk membunuh nyamuk. Seolah-olah saya tidak punya peduli dengan dunia ini dan ayahku. Mungkin saya harus pergi dan pergi.

Saya tidak ingin melihat ayah merenung dan menunggu. Pasti baginya itu luka yang sangat sulit disembuhkan. Suatu hari ibu pulang membawa 2000 ekor cicak di dalam keranjang, ibu tidak peduli dengan keadaan rumahnya yang sudah hancur dan berlubang di mana-mana. Ibu melepaskan seluruh 2000 ekor cicak di dalam rumah untuk memakan seluruh nyamuk. Kulihat 2000 ekor cicak itu sangat beringas dan lebih bajingan dari nyamuk-nyamuk yang mencoba selalu bersembunyi, menurutku itu sangat memalukan.

 Selama 2000 ekor cicak itu memakan seluruh nyamuk, ibu membereskan seluruh rumah tanpa memperpaiki lubang-lubang di lantai dan di dinding. Perlahan nyamuk-nyamuk mulai berkurang dan ayah mulai sering tertidur di sofa yang sobek terkena kapak. Oleh kebosanan, selama empat hari, 2000 ekor cicak itu telah berhasil membunuh sekitar 1000 lebih, ekor nyamuk, itu hasil catatan yang ditulis oleh ayah.

Kau pasti tahu saat ini saya sedang sendiri, saya harus pergi dan pergi. Sebelum jentik nyamuk yang tumbuh di paru-paruku melahirkan luka. Kau pasti juga tahu kalo sepi bagian dari sepi itu sendiri. Kau tahu kaca depan rumahku selalu bersih dan tak pernah berembun. Saya harus pergi dan pergi. Sebelum jentik nyamuk yang tumbuh di paru-paruku melahirkan luka. Kau tahu segalanya tentangku dan rumahku, namun ada satu masalah yang harus kau tahu, rumahku selalu melahirkan banyak sekali hewan-hewan yang tak pernah terpikirkan seperti: kura-kura tanpa tempurung, kucing yang berperilaku seperti anjing atau burung yang lupa bagaimana mengepakan sayapnnya dan saya harus pergi dan pergi. Sebelum jentik nyamuk yang tumbuh di paru-paruku melahirkan luka.

Namun kau tak pernah tahu saya mempertaruhkan cicak cicak di rumahku untuk mencintaimu, Sebab duapuluhdua hari yang lalu 2000 ekor cicak, berkumpul di tembok kamarku dan membentuk kode-kode yang agak lumayan sulit dipahami, dan pelan-pelan 2000 ekor cicak itu membentuk wajahmu. Itu cerita duapuluhdua hari yang lalu, di mana saya diserbu 2000 ekor cicak.


Dan sekarang kau sudah tahu tentang cicak-cicak itu dan kau tak akan pernah tahu tentang seekor coro yang mencintaiku beberapa hari yang lalu sebelum kau benar-benar ingin putus dariku.

Wednesday, 12 October 2016

Cicak-cicak di dinding

                                                                         patperry.net



Kau pasti tahu saat ini aku sedang sendiri, kau pasti juga tahu kalo sepi bagian dari sepi itu sendiri. Kau tahu kaca depan rumahku selalu bersih dan tak pernah berembun. Kau tahu segalanya tentang aku dan rumahku, namun ada satu masalah yang harus kau tahu, rumahku selalu melahirkan banyak sekali hewan-hewan yang tak pernah terpikirkan seperti: kura-kura tanpa tempurung, kucing yang berperilaku seperti anjing atau burung yang lupa bagaimana mengepakan sayapnnya.

Namun kau tak pernah tahu aku mempertaruhkan cicak cicak di rumahku untuk mencintaimu, Sebab duapuluhdua hari yang lalu sekumpulan cicak-cicak yang entah dari mana, berkumpul di tembok kamarku dan membentuk kode-kode yang agak lumayan sulit dipahami, dan pelan-pelan cicak-cicak itu membentuk wajahmu. Itu cerita duapuluhdua hari yang lalu, di mana aku diserbu kumpulan cicak-cicak.

Dan sekarang kau sudah tahu tentang cicak-cicak itu dan kau tak akan pernah tahu tentang seekor coro yang mencintaiku beberapa hari yang lalu sebelum kau benar-benar ingin putus dariku.

Monday, 19 September 2016

Tuan Armadillo

https://id.pinterest.com/animalfriend46/

Tahun 1930-an hiduplah Sapi-sapi berwarna cokelat yang sulit karena rasisme dan diskriminasi ras tidak melanggar hukum di tahun 1930-an, karena rasisme masih merajalela pada saat itu. Sapi berwarna cokelat dan Sapi bercorak hitam putih dipisahkan di tahun 1930-an.

Sapi bercorak hitam putih dibayar kurang dari Sapi-sapi bercorak hitam putih dan mereka Sapi-sapi berwarna cokelat harus bekerja lebih keras, sering diberi lebih 'pekerjaan kotor' seperti tidak memakan rumput dan tak diberikan air untuk minum. Hukuman mati untuk Sapi berwarna cokelat adalah hukuman gantung.

Rombongan Sapi-sapi berwarna cokelat merasa ingin mengubah cara mereka diperlakukan tapi itu sangat sulit bagi mereka untuk melakukan hal ini sebagai akibat dari Tuan Banteng, ini karena sejumlah undang-undang yang ditegakkan yang memberikan dasar hukum bagi memisahkan dan diskriminasi terhadap Sapi-sapi berwarna cokelat.

Di tahun 1933, Sapi-sapi berwarna cokelat mulai pindah ke kota Padang Rumput untuk bebas untuk peraturan segregasi. Pada tahun 1932, lebih dari satu juta Sapi-sapi berwarna cokelat telah bermigrasi ke kota-kota timur termasuk Kota yang ditumbuhi rerumputan yang lebat, termasuk Kota Padang Rumput salah satunya. Diskriminasi masih lazim di Utara, namun. Meningkatnya populasi di kota Padang Rumput diperkuat persaingan untuk mendapatkan lahan dan tempat tinggal. Sapi-sapi berwarna cokelat ditolak dalam setiap aktivitas dan harus hidup dalam sesak dan menyedihkan.

Munculnya kembali Tuan Banteng sekitar tahun 1935, ditambah dengan tersedak terus peraturan di wilayah Selatan, meningkatkan ketegangan antara Sapi-sapi berwarna cokelat dan Sapi bercorak hitam putih di Kota Sabana. Gelombang konfrontasi rasial kekerasan mulai muncul.

Pada musim panas 1938, kerusuhan ras meledak di seluruh Utara dan kota Padang Rumput. Kerusuhan terjadi di antara bulan September sampai Oktober. Di Kota Damen, 45 ekor sapi tewas dan 500 lainnya luka-luka. Kerusuhan terus berlanjut sampai tahun 1939-an. 

Pada tahun 1937 di kota Sabana, Segerombolan Sapi bercorak hitam putih menyerang kawasan tempat tinggal Sapi-sapi berwarna cokelat. Tiga puluh hektar sabana terbakar dan seluruh Sapi-sapi berwarna cokelat tewas mengenaskan.

Berkat Tuan Kolibri, Tuan Banteng mendengar kabar rasisme terjadi di bagian Kota Salju, di mana  Sekawanan Mafia Putih hidup di suhu di bawah nol derajat celcius yang dipimpin oleh Tuan Beruang. Mafia Putih memiliki kekuatan dan pengaruh politik yang kuat untuk mengatur kota Salju. 

Di tahun 1929-an, permusuhan mulai membangun terhadap minoritas di Kota Salju. Terutama karena kesulitan keuangan dan takut pada politik radikal, seperti komunis yang dipimpin oleh Tuan Beruang. Ketegangan antara minoritas dan Mafia Putih yang mulai memanas. Namun, efek dari politik radikal banyak sekumpulan hewan yang mati dan diculik.

Kota Salju memerah dan tiba pada puncaknya di tahun 1930-an, penderitaan yang diwujudkan sebagai kebencian terhadap minoritas dan imigran di Kota Salju semakin menderita. Karena kekurangan pekerjaan, persaingan untuk pekerjaan memicu banyak konflik juga pembunuhan yang selalu terjadi setiap hari. Terkadang potongan kepala Anjing laut yang digantungkan di atas pohon cemara, atau darah-darah segar yang terus mengalir di sela-sela batu.

Menyalahkan para Hewan imigran seperti Segerombolan Panda yang menghilangkan corak hitam demi mengabdi kepada Mafia Putih untuk menguasai beberapa tempat di Kota Salju, keadaan ekonomi semakin buruk dan mencekam berubah menjadi cara untuk meningkatkan dukungan untuk "memutikan kulit".

Sejak terjadi perpecahan di bagian seluruh belahan dunia, banyak segerombolan hewan minoritas yang dipandang dengan penuh kecurigaan, terutama karena takut komunis. Selama akhir 1951-an, dengan persekutuan organisasi Mafia Putih dan organisasi Mafia di seluruh bagian dunia, hewan-hewan minoritas tertekan dan mencoba mencari perlindungan dari kehancuran atau membunuh dirinya sendiri.

Organisasi Mafia Putih, yang dipimpin Tuan Beruang, menaikkan biaya imigrasi untuk datang ke Kota Salju dari $ 200 menjadi $ 20.000 pada akhir Tahun 1951. Imigran juga diminta untuk menunjukkan bukti setia kepada Tuan Beruang dengan memutihkan badan.

Kesejahteraan dan kedamaiaan di Kota Hutan Hujan mulai terasa pada akhir tahun 1951-an. Meskipun Mafia Kumbang telah membuat Proklamasi membebaskan semua kawananan hewan diberlakukan di seluruh bagian barat atas nama Mafia Kumbang.

Pada tahun 1951-an, seluruh organisasi Mafia Putih dan organisasi Mafia –mafia di seluruh bagian dunia, mengadakan pertemuan, dalam rapat besar itu dihadiri para ketua Mafia yang mampu menggerakan dunia. Terlihat Tuan Beruang duduk sambil memegang gelas berisi cairan minya ikan. 

Di sudut lain Tuan Banteng hanya memegang cerutu jerami dan berbicara dengan Ketua yang lain. Sekitar dua jam lebih perdebatan semakin panas dalam bertukar hasil dan wilayah. Namun Mafia Kumbang yang dikenal kejam memilih pulang lebih awal. Dikarenakan Politik yang semakin tidak sehat dan saling membunuh.

Mafia-mafia besar tidak pernah tertarik dengan wilayah-wilayah kecil dan tidak berpenghasilan tinggi. Keyakinan Kebebasan bukanlah Komunis yang diucapkan Mafia Kumbang meluas di antara bagian-bagian kecil di seluruh dunia. Sebagian besar hewan minoritas mulai percaya kepada keyakinan Mafia Kumbang dan mulai memilih bermigrasi ke Kota Hutan Hujan yang memperlakukan semua hewan dengan sejajar dan sama.

Akhir tahun 1959-an kabar ‘Kebebasan bukanlah Komunis’ seluruh anggota Mafia di seluruh bagian dunia mulai mengepung dan menututup jalur perbatasan. “JIKA SIAPA YANG BERANI MELINTASI PERBATASAN INI AKAN KUBAKAR HIDUP-HIDUP” itu yang tertulis di papan jalur perbatasan. Membuat seluruh hewan mengurungkan niatnya untuk bermigrasi ke Kota Hutan Hujan.

Banyak sekali hewan yang mati sia-sia dan ada juga yang berhasil meloloskan diri. “Organisasi Mafia di seluruh bagian dunia harus konsisten dalam misi memastikan untuk meningkatkan standar perlindungan dari kabar-kabar yang ingin menghancurkan. Pesan itu disampaikan oleh pemerintah bawah tanah.

Rata-rata Rasisme dan Kekerasan telah terjadi di seluruh dunia, yang dilakukan oleh Mafia-Mafia atau hewan gila yang didukung penuh oleh pemerintah bawah tanah yang menginginkan kebebasan dan kekayaan. Juga mengontrol seluruh bagian dengan kekerasan untuk melumpuhkan rakyatnya dengan rasa takut.


Mafia-mafia itu digunakan oleh pemerintah bawah tanah yang dipimpin oleh Tuan Armadillo, juga berperan sebagai pembunuh jikalau mereka (pemerintahan bawah tanah) merasa kebebasan dan kekayaan mereka berada dalam bahaya.

Saturday, 17 September 2016

Sayur Daun SIngkong


“Izinkan aku mencintai kekasihmu,” aku bertanya kepada cowonya secara terang-terangan, saat ia sedang makan. Kulihat ia menggantungkan daun singkong di mulutnya, matanya sedikit melihat ke arahku.
Ia memotong sisa daun singkong yang tadi digantungkan di mulutnya. Ia melihat ke samping kanan, lalu ke kiri untuk memastikan apakah ada orang lain selain dirinya yang makan di sini.
“Izinkan aku mencintai kekasihmu,” aku lebih keras dan penuh semangat mengucapkannya. Tepat di depan wajahnya yang tericum aroma sayur singkong, aku mengatakan i-z-i-n-k-a-n  a-k-u  m-e-n-c-i-n-t-a-i  k-e-k-a-s-i-h-m-u dengan perlahan dan pelan dengan artikulasi yang jelas .
“Silahkan duduk!” Katanya.
“Ya, terima kasih” Jawabku, sambil menahan jeleh ketika mencium sayur daun singkong yang di makannya.
“Yang barusan kau katakan itu untuk kekasihku? Bukan!” jawabnya, sambil terus lanjut mengunyah daun singkong.
“Izinkan aku mencintai kekasihmu,”tanyaku.
“Boleh saja kau mencintai kekasihku.” Jawabnya.
“Apakah Kau tidak lagi mencintai kekasihmu?” Tanyaku.
“Aku sangat mencintai kekasihku setengah mati, dan tiba-tiba kau bertanya kepadaku, dengan kalimat yang luar biasa yang mengkoyak-koyak imanku. Ternyata di dunia ini yang kecil ini ada yang mencintai kekasihku selain diriku.” Jawabnya sambil melihat ke arahku.
“Kenapa kau ingin mencintai kekasihku?” Tanyanya dengan mulutnya yang belepotan, secuil nasi yang menempel di pojok bibirnya.
“Karena kekasihmu, mencintaiku!” Balasku sambil menjauhkan wajahku dari jangkauan tangannya.
“Hahah…haha… apa yang membuat kekasihku bisa mencintaimu!” Ia tertawa mengejek tanpa adegan nasi di pojok bibirnya itu jatuh.
“Kekasihmu tidak lagi mencintaimu, Bung! Makanya saya ke sini mau meminta izin untuk mencintai kekasihmu itu.” Jawabku dengan penuh ketegasan dan sedikit rasa khawatir.
Nasi di pojok bibirnya jatuh di lengannya, lalu memakannya kembali. Kulihat piringnya bersih tanpa adanya nasi atau sayu singkong yang tertinggal di piringnya.
“Hahaha…hahaha” ia kembali tertawa tidak jelas.
“Kekasihku, setia, mana mungkin ia mencintai laki-laki lain selain diriku. Apalagi mencintai dirimu itu tidak mungkin.” Sambungnya kembali.
“Ini Buktinya.” Aku menunjuk ke diriku sendiri sebagai bukti aku datang untuk meminta izin.
“Ada alasan lain?” ia bertanya kepadaku.
“Ada.” Jawabku.
“Apa?” balasnya.
“Ia… tidak… suka laki…laki…ya…” jawabku.
“Lesbian?” Sambutnya.
“Bukan! Kau seharusnya tidak memotong ucapanku. Bung.” Jawabku sedikit merasa kesal.
“Lalu apa? Kau bicara terlalu lama dan terbata-bata.” Jawabnya.
“Ia tidak suka laki-laki yang doyan makan sayur daun singkong, Bung! Makanya ia mencintaiku daripada dirimu.”Kataku.
“Persetan! Dengannya.”Jawabnya sambil kembali memesan sayur daun singkong dan sepiring nasi yang ketiga kalinya.

“Persetan! Juga.” jawabku dalam hati.

Saturday, 10 September 2016

BAGAIMANA MUZHIK MAKAN DUA PEJABAT, M.Y. SALTYKOV



SEKALI waktu ada dua pejabat. Mereka berdua berkepala kosong, dan mereka menemukan diri mereka pada suatu hari tiba-tiba diangkut ke pulau tak berpenghuni, Seakan mendapat karpet ajaib.
Mereka telah melewati seluruh hidup mereka dalam Dinas Pemerintah, di mana catatan yang terus; telah lahir di sana, dibesarkan di sana, menjadi tua di sana, dan akibatnya belum memahami setidaknya untuk karakter apapun di luar Dinas; dan hanya kata-kata mereka tahu adalah: "Dengan jaminan harga tertinggi, Saya anda hamba yang rendah hati."
Namun Dinas ini dihapuskan, dan sebagai layanan dari dua Pejabat tidak lagi dibutuhkan, mereka diberi kebebasan mereka. Jadi Pejabat pensiun bermigrasi ke Podyacheskaya Street di St. Petersburg. Masing-masing memiliki rumah sendiri, masak sendiri dan uang pensiunnya.
Terbangun di pulau tak berpenghuni, mereka menemukan diri mereka berbaring di bawah penutup yang sama. Pada awalnya, tentu saja, mereka tidak bisa mengerti apa yang telah terjadi kepada mereka, dan mereka berbicara seolah-olah ada yang luar biasa telah terjadi.
"Apa yang aneh dari mimpiku tadi malam, Yang Mulia," kata salah satu Pejabat.
"Tampaknya saya seolah-olah saya berada di pulau tak berpenghuni."
Hampir ia mengucapkan kata-kata, ketika dia melompat berdiri. Pejabat lainnya juga melompat.
"Ya Tuhan, apa artinya ini! Di mana kita? "Mereka berteriak keheranan.
Mereka merasa satu sama lain untuk memastikan bahwa mereka tidak lagi bermimpi, dan akhirnya meyakinkan diri dari kenyataan yang menyedihkan.
Sebelum mereka membentang lautan, dan di belakang mereka adalah tempat kecil di bumi, di luar lautan yang membentang sekali lagi. Mereka mulai menangis-pertama kalinya sejak Dinas mereka telah ditutup.
Mereka saling memandang, dan masing-masing menyadari bahwa yang lainnya mengenakan apa pun kecuali baju tidurnya dengan harga tergantung di lehernya.
"Kami benar-benar harus memiliki kopi saat ini," mengamati satu Pejabat. Kemudian ia berpikir dirinya lagi dari situasi yang aneh dia dan kedua kalinya jatuh menangis.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Isaknya. "Bahkan seandainya kami untuk
menyusun laporan, apa gunanya? "
"Kau tahu apa yang, Yang Mulia," jawab Pejabat lainnya, "Anda pergi ke timur dan aku akan pergi ke barat. Menjelang malam kita akan kembali ke sini lagi dan, mungkin, kita akan menemukan sesuatu. "
Mereka mulai untuk memastikan yang timur dan yang barat. Mereka ingat bahwa kepala Dinas mereka pernah berkata kepada mereka, "Jika Anda ingin tahu di mana timur adalah, kemudian putar wajah Anda ke utara, dan timur akan di sebelah kanan kamu. "Tetapi ketika mereka mencoba untuk mencari tahu yang utara, mereka berbalik ke kanan dan ke kiri dan melihat sekeliling di semua sisi. Setelah menghabiskan Seluruh hidup mereka di lingkungan Dinas, usaha mereka sia-sia.
"Menurut saya, Yang Mulia, hal terbaik untuk dilakukan akan bagi Anda untuk pergi ke bagian kanan dan saya pergi ke bagian kiri, "kata salah satu Pejabat, yang telah melayani tidak hanya di lingkungan Dinas, kecuali juga telah menjadi guru dari tulisan tangan di Sekolah untuk Cadangan, dan begitu sedikit lebih pintar dari kecil.
Begitu mengatakan, sehingga dilakukan. Salah satu Pejabat pergi ke kanan. Dia datang kepada pohon, membawa segala macam buah-buahan. Dengan senang hati ia akan memetik apel, tetapi mereka semua digantung begitu tinggi bahwa ia pasti diwajibkan untuk memanjat. Dia mencoba memanjat sia-sia. Semua ia berhasil lakukan merobek baju tidurnya. Kemudian ia menyerang di atas sungai. Itu sedang dipenuhi dengan ikan.
"Bukankah lebih indah jika kita memiliki semua ikan ini di Podyacheskaya Street!" ia berpikir, dan mulutnya disiram. Kemudian dia memasuki hutan dan menemukan ayam hutan, belibis dan kelinci.
"Baik Tuhan, apa kelimpahan makanan!" dia berteriak. Kelaparannya akan meningkat naik.
Tapi dia kembali ke tempat yang ditunjuk dengan tangan kosong. Ia menemukan Pejabat lain yang menunggunya.
"Yah, Yang Mulia, bagaimana caranya pergi? Apakah Anda menemukan sesuatu? "
"Tidak ada kecuali nomor lembaran kuno Moskow, tidak hal lain."
Pejabat berbaring tidur lagi, tapi perut kosong mereka memberi mereka beristirahat Mereka sebagian dirampok tidur mereka dengan pikiran yang sekarang menikmati mereka pensiun, dan sebagian oleh ingatan buah, ikan, ayam hutan, belibis dan kelinci yang mereka lihat sepanjang hari.
“Makanan ternak manusia dalam bentuk aslinya terbang, berenang dan tumbuh di pohon. Siapa sangka itu Mulia? "Kata salah satu Pejabat.
"Yang pasti," balas Pejabat yang lain. "Saya juga harus mengakui bahwa saya telah membayangkan bahwa gulungan sarapan kami, datang ke dunia ini sama seperti mereka muncul di atas meja."
"Dari mana itu adalah untuk ditarik kesimpulan bahwa jika kita ingin makan burung pegar, kita pertama harus menangkapnya, membunuhnya, tarik bulunya dan memanggangnya. Tapi bagaimana yang harus dilakukan?
"Ya, bagaimana yang harus dilakukan?" Ulang Pejabat yang lain.
Mereka berbalik diam dan mencoba lagi untuk jatuh tertidur, tetapi rasa lapar mereka membuatku takut ketiduran. Sebelum mata mereka menyerbu kawanan burung dan bebek, ternak dari porklings, dan mereka semua sangat segar, melakukannya dengan lembut dan hiasi begitu nikmat dengan zaitun, kaper dan acar.
"Saya percaya saya akan memakan sepatu saya sendiri sekarang," kata salah satu Pejabat.
"Sarung tangan, tidak buruk, terutama jika mereka telah lahir cukup lembut," kata Pejabat lainnya.
Dua Pejabat saling menatap lekat-lekat. Dalam tatapan mereka bersinar jahat memberikan tanda membakar, gigi mereka berceloteh dan rintihan kusam dikeluarkan dari payudara mereka. Perlahan-lahan mereka merayap pada satu sama lain dan tiba-tiba mereka meledak menjadi hiruk-pikuk yang menakutkan. Terjadi teriakan dan erangan, dengan kain compang-camping terbang, dan Pejabat yang pernah memiliki guru sedikit tulisan tangan dari pesanan rekannya dan menelannya. Namun, kalau melihat darah membawa keduanya kembali ke akal sehat mereka.
"Tuhan membantu kita!" Seru mereka pada waktu yang sama. "Kami tentu tidak bermaksud untuk makan atas satu sama lain. Bagaimana mungkin kami datang untuk umpan seperti ini? Bagaimana kecerdasan yang jahat ini membuat olahraga kita? "
"Kita dengan segala cara, harus, menghibur satu sama lain untuk melewatkan waktu, tidak akan ada pembunuhan dan kematian," kata salah satu Pejabat.
"Anda akan mulai," mengatakan yang lain.
"Anda dapat menjelaskan mengapa matahari terbit pertama dan kemudian tenggelam? Mengapa bukan sebaliknya?"
"Apakah Anda tidak lucu, manusia, Terhormat? Anda bangun pertama, maka Anda pergi ke kantor Anda dan bekerja di sana, dan di malam hari Anda berbaring untuk tidur. "
"Tapi mengapa seseorang tidak bisa berasumsi sebaliknya, yaitu yang satu menuju, tidur, melihat segala macam mimpi angka, dan kemudian bangun?"
"Yah, ya, tentu saja. Tapi ketika aku masih seorang Pejabat, aku selalu berpikir dengan cara ini:' sekarang; Fajar, maka itu akan menjadi hari, kemudian akan datang makan malam, dan akhirnya akan datang waktu untuk pergi tidur. “
Kata "Perjamuan" ingat bahwa insiden perbuatan di hari itu, dan memikirkan hal itu membuat kedua pejabat melankolis, sehingga percakapan datang terhenti.
"Dokter pernah mengatakan kepada saya bahwa manusia dapat menopang dirinya untuk waktu yang lama di cairan mereka sendiri," Pejabat satu mulai lagi.
"Apa artinya?"
"Ini cukup sederhana. Anda lihat, Cairan sendiri menghasilkan cairan lainnya, dan pada gilirannya masih cairan lainnya, dan begitulah seterusnya sampai akhirnya semua cairan dikonsumsi."
"Dan kemudian apa yang terjadi?"
"Maka makanan harus diambil ke dalam sistem lagi."
"Iblis!"
Tidak peduli apa topik Pejabat memilih, percakapan selalu kembali ke subjek makan; yang hanya meningkatkan nafsu makan mereka lebih dan lebih. Jadi mereka memutuskan untuk menyerah berbicara sama sekali, dan, teringat lembaran Moskow bahwa salah satu dari mereka telah menemukan, mereka mengambilnya dan mulai membaca dengan penuh semangat.


© Okdiyan Artha Kusuma | @nebulasenja
Maira Gall
| Published By Kaizen Template | GWFL | KThemes