Puisi
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Friday, 26 August 2016

Tiga puisi Ahmad Shadab Mahsher

Sungwon

Aku Kesepian Di sini

Aku kesepian di sini silahkan datang, kau ada di mana
Aku harus menelepon kau di mana, di mana kau sayangku
kau berlalu dan aku sendirian dengan hati yang terluka
Aku kalah dan sekarang dunia tidak berharga
Racun kesedihan ditiupkan di pembuluh darahku
Sekarang aku bisa mengendalikan debar jantung dan napasku
Air mata yang rusak di mataku sekarang aku buta
Aku di dalam kubur dan tanpa ada kegelapan di benakku
Rasa sakit dan Kesedihan adalah menggambar garis di wajahku
Frustrasi dan ketidakberdayaan lebih tetapi harapan kurang
"Shadab" Kau selesai dan semua adalah akhir
Ini adalah waktu untuk pergi di bawah tanah.

Aku Tidak Bisa Tidur di Malam Hari Aku Terjaga

Aku tidak bisa tidur di malam hari Aku terjaga
Sekarang Aku begitu lemah dan tidak bisa bicara
Kau kenangan yang menggangguku
Aku tidak bisa melakukan apa-apa aku hanya bisa melihat
Kau berada jauh dariku dan aku begitu miskin
Aku sangat lelah dibanding kapan pun
Kesepian dimakan aku ya hidup, ya dimakan hidup-hidup
Terkadang aku merasa bahwa seseorang memukuliku dengan pisau
Kegelapan begitu banyak di mataku dan aku merasa masih malam
Tubuhku mengatakan aku tidak ada kemampuan lebih untuk peduli dan berjuang.

Kau Cinta Pertamaku
Kau cinta pertamaku
Kau cinta terakhirku
Kau pergi dan patah hatiku
Tanpa kau hidupku menjadi pendek
Kau dengan orang lain Aku sendirian di sini
Sendirian di sini dan mengatakan ini lebih keras
Mungkin aku tidak harus
Mungkin aku tidak harus
Kematian adalah satu-satunya cara untuk menghibur
Aku akan menghukummu di pengadilan jantung
Untuk mencintaimu Aku menghukum setiap menit
Untuk mencintaimu Aku benci diriku sendiri ya aku benci aku benci
Shadab Aku bilang kau tidak mencintai siapa pun, tidak ada yang
Mencintai ini, sehingga Api di tambang kau bersama sebuah pistol.

Wednesday, 1 June 2016

Menanti Esok Pagi


Ingin kutuliskan namamu,
di dinding kamar mandi
ketika kau jongkok atau berdiri
kau akan selalu ingat namamu sendiri.
Menanti esok pagi
ditinggalkan olehmu.
Kupaksakan aku tak terlelap,
dan tak memotong satu pun,
apa yang ada di pikiranmu.
Aku hanya ingin berhenti menulis,
berarti aku tak lagi memikirkanmu

dan “ditinggalkan olehmu.”

Friday, 13 May 2016

Ruang Kaca

Berkaca dan berbicara sendiri
lalu kau memotret dirimu,
mengabadikan beberapa menit waktu
kubekukan saja diriku di dalam laut artik
namun jauh bagiku
kubekukan saja diriku di tabah tubuhmu.
Kau dan Aku,
sepasang sepi,
yang saling menjelaskan diri.
Terlalu panjang untuk dirimu
terlalu pendek untuk diriku,
mari rayakan hari-hari
dengan pelukan.
Tangan-tangan kita
mampu menjelaskan
lebih baik.

Monday, 2 May 2016

Jendela Hotel



Kau tidak muncul di ujung perempatan menuju hotel;

atau melintas di depan jendela.

Mendekap.

Mendekap. Mendekap, Mendekap. Mendekap.

Mendekap, Mendekap. Mendekap.

Mendekap. Mendekap. Mendekap. Mendekap.

Mendekap, Mendekap. Mendekap.

Mendekap. Mendekap, Mendekap. Mendekap.

Mendekap. Mendekap. Mendekap.

Mendekap. Mendekap, Mendekap. Mendekap.

Mendekap. Mendekap. Mendekap.

Mendekap. Mendekap, Mendekap. Mendekap.

Mendekap. Mendekap. Mendekap.

Mendekap. Mendekap, Mendekap. Mendekap.

Mendekap. Mendekap. Mendekap.

Mendekap. Mendekap, Mendekap. Mendekap.

Mendekap. Mendekap. Mendekap.

Di depan jendela.                                                                                                

Sunday, 1 May 2016

Melepaskan Diri


Cinta membutuhkan hari libur
di mana tubuhmu tak dilukai,
oleh waktu.

Berlibur,
atau meliburkan,
dirimu tetaplah dirimu,
yang kekal--
mengikat di ingatan.


2016

Thursday, 21 January 2016

Jakarta sanggup melupakan sebuah desa




Aku pernah berkunjung ke Jakarta
sewaktu masih memeluk ibu
kulihat gedung, orang menyalakan lampu
mewarnai langit dengan kemacetan.
Jakarta sanggup melupakan sebuah desa
bisa kau temukan Jakarta di dalam sedihnya
sedih orang-orang yang tak pernah kembali.
Jakarta mampu melupakan cinta,
tentang kematian yang begitu sulit memahaminya.

Telah berpulang diri ke desa
aku sanggup menceritakan banyak alasan
mengenai bagaimana untuk mencintainya.
Jakarta kota yang baik, kota yang sanggup
menampung banyak keraguan.
Hiduplah dengan banyak menunggu
Kau akan sanggup mencintainya.


2016

Wednesday, 13 January 2016

Mimpi Yang didoakan



Sore tidak lagi mengenal namamu,
bayangmu memencar, menyelinap
di jalanku. Kehilangan adalah seekor ikan
yang terperangkap jaring waktu.
Jendela itu tempat kau menatap jauh,
tempat yang paling kau ragukan
bagi perasaanmu sendiri.
Bukan aku saja yang menjaga bulan
kemungkinan, kau juga menjaganya
untuk memasrahkan hidup
Waktunya aku tenggelam
ke dalam mimpi-mimpi yang baik,
mimpi-mimpi yang didoakan.


2016

Saturday, 19 December 2015

Pesanku yang tak sampai, dan tak terbaca olehmu



Dengan sengaja kau diamkan pesanku,
pesanku menjadi batu, lalu tenggelam ke bawah
dan kau lupakan.

Malam memanjatkan bulan yang tak akan tergelincir
jatuh ke dalam ketiadaan.
Malam tidak akan menjatuhkan
apapun ke dalam cemasmu.

Aliran sungaimu yang begitu deras,
dirimu hanyut, membawa cahaya
yang akan kuambil, kuletakkan di dalam jantung.

Jantungku berisikan kata-kata
yang akan meledak di jantungmu.
Dan, menjadi nyala untukku.

Kubayangkan dirimu di dalam aku
waktu semakin larut, rindu lupa diri.
Kubiarkan kau merasuki jiwaku
seperti cahaya.


2015

Thursday, 10 December 2015

Yang Ingin Kumiliki

-untuk menjaga kesadaranku.

Telah aku lepas ke dasar hatimu
lalu kutabahkan bersama batu itu
yang mencintai jejak kakimu.

Ia berserah, menundukkan kepala
di antara udara
meski kata-kata yang ditinggalkannya.

Udara begitu dingin,
ketika ia meninggalkanku
serahkanlah apimu ke aku
biarkan tubuhku menyalakan apimu.

2015


Monday, 2 November 2015

D



Yang tak dipahami kita hanyalah angin
memotong setiap lembar daun
lalu terjatuh dipangkuan batu
berulang kali-
keluar begitu saja dari
mulutmu ke mulutku.
langit ke tanah
atau, tanah ke langit
memandangmu tetaplah sama
dari mata turun ke hati.
Waktu kembali menemukan
perasaan, yang kau-
pecahkan semalam.
Saban sore kau menghitung
banyak angka, kata bapak ;
“Jadilah anak yang pandai berhitung”
namun kau tak benar-benar
pandai berhitung. Kau khawatir
akan jari-jarimu yang tak
sanggup menampung jumlah
kau bersembunyi di dalam cerminmu
sebelum angin menjatuhkan daun
sepotong cahaya yang menembus masuk itu
-Aku.

Purwokerto, 2015

Monday, 12 October 2015

Ada batu di dalam ingatan



Tumbuh sebuah bunga
terlahir dari air yang suci. Bunga itu selalu
bersedih tanpa dilukai. Berbulan-bulan kelopak bunga di matanya
tumbuh subur, cintanya telah dikutuk sendiri
dengan sumpah yang tumbuh di bibirnya.
Lalu bunga menjadi batu yang
menyimpan luka, bunga dan batu akhirnya saling
melepas sumpah dihadapan arus air.

Di atas punggung batu membekas jejak air
batu itu menangis dengan hati-hati
agar tidak terdengar melepas rindu kepada kelopak bunga
seekor burung gereja melepas sayapnya dan tidak lagi ingin terbang
habis itu si burung berdiam diri di atas punggung batu
dan ingin menjadi sebuah batu.

Akhirnya si burung menjadi batu yang diinginkan
Seluruh badanya mengeras tetapi tidak cintanya
Setiap malam cahaya bulan membelah udara
Menyinari kedua punggung batu. Semakin lama
Bunga di samping melepas seluruh kelopak
Ke atas tanah dan memilih mati. Batu yang tidak membentuk
Ingin meniru bunga dengan melepas sesuatu yang berharga
Demi ajalnya, “batu berpikir apa yang ingin dilepaskanya?”
Dalam batinnya hanya ada satu jalan dengan dipecahkan
Maka hidupnya berakhir, tanpa melepas sesuatu yang berharga
Batu memilih diam.

Tepat 100 hari burung gereja menjadi batu di atas punggung batu
Dalam dada kecil-cintanya tetap menyala besar
Ia pernah bertanya kepada ibunya “cit…cit…cit…cit…cit?”
Ibunya menjawab “jadilah batu, dengan menjadi batu
Sesungguhnya kita menjadi paham akan diam. Lihatlah
para dewa yang menjadi batu dan tetap bercerita. Nak, jadilah
Sebuah batu.” Di hari yang ke 101 burung gereja kecil itu hancur
Lemah akan hujan dan sinar bulan. Cintanya diambil malaikat
Dan ditenangkan di balik bulan.

O, bunga
O, burung
Batu akhrinya mati
tenggelam di bawah tanah.

Aku tidak lagi menceritakan apa-apa
Tentang batu yang ingin mati atau
bunga yang melepas kelopak demi ajalnya
Dan, burung yang bercita-cita menjadi batu.
Semenjak semua mati, aku menjadi seekor ikan di arus air
Yang membelah ingatanmu.

Purwokerto, 2015
© Okdiyan Artha Kusuma | @nebulasenja
Maira Gall
| Published By Kaizen Template | GWFL | KThemes